3.1.a.10. Aksi Nyata (Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran)

 Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

oleh 

Merita Diana, S.Si.,M.Pd

(SMPN 1 Tanjungraja)

F1 :Pristiwa :

Latar belakang 

SMPN 1 Tanjungraja, merupakan sekolah menengah pertama di kecamatan Tanjungraja. SMPN 1 Tanjungraja memiliki jumlah murid kurang lebih 380 murid terdiri dari 12 rombel. Keadaan guru dan staf mengajar di SMPN 1 Tanjungraja, memiliki 6 orang guru PNS dan 2 orang yang berstatus PPPK, selain itu adalah guru berstatus  guru honorer yang berjumlah kurang lebih 20 orang. Banyaknya guru honor menyebabkan pengeluaran dana  BOS yang sangat besar. Sekolah memiliki program untuk pengembangan sekolah, tetapi terkendala di dana. Fokus dana BOS saat ini untuk membayar tenaga honorer dan operasional sekolah yang rutin saja. tetapi sekolah tidak menyerah, kepala sekolah dan semua wakil kepala sekolah bekerjasama bagaimana sekolah ini masih bisa berkembang dengan meminimalisir dana dan memanfaatkan potensi yang ada di sekolah. Kepala sekolah di SMPN 1 Tanjungraja, baru menjabat sebagai kepala sekolah awal tahun 2021. Kepala sekolah merupakan jabatan pertama kalinya sebagai kepala sekolah setelah 15 tahun beliau menjadi guru mata pelajaran di sekolah di luar wilayah Tanjungraja.  

Tahun 2021 merupakan tahun pergantian pimpinan sekolah dan pergantian wakil kepala sekolah, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang dari SMPN 1 Tanjungraja pindah tugas ke sekolah lain dan menjadi pimpinan semua di sekolah lain sehingga, di SMPN 1 kehilangan orang-orang yang biasa memimpin.  

Saya ditunjuk oleh kepala sekolah yang baru menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Keputusan kepala sekolah ini membuat rekan guru yang senior merasa kurang nyaman. Tetapi saya juga tidak bisa menolak printah kepala sekolah. kurang nyaman mereka itu di wujudkan dengan prilaku mereka yang berubah menjadi kepedulian terhadap sekolah berkurang, apa yang disepakati mereka tidak melaksanakan. sehingga prilaku guru senior itu membuat guru junior merasa iri. mereka merasa apa beda mereka dengan guru senior itu mengapa guru senior itu tidak di marah atau di tegur oleh kepala sekolah karena ketidakhadirannya. Awalnya saya juga heran dengan prilaku kepala sekolah kami, dia tidak respon dengan keluhan guru-guru junior. sampai suatu saat guru junior meniru juga prilaku guru senior yaitu tidak hadir disekolah. setelah sekian lama kejadian beberapa guru tidak hadir di sekolah ini, membuat resah, murid banyak yang tidak belajar, suasana kelas menjadi riuh karena banyak guru yang tidak hadir disekolah. 

Ada kasus guru M, memilliki pekerjaan menjadi guru di dua sekolahan, dia tidak mau berterus terang dengan keadaanya, dia memilih berdiam diri saja sambil menelantarkan pekerjaannya mengajar di SMPN 1 Tanjungraja, sampai suatu saat waka kurikulum memanggilnya dan menegur prilakuknya. keterampilan choaching telah di lakukan oleh waka kurikulum sehingga guru M itu mampu memunculkan idenya sehingga dihasilkan keputusan dia kan mengurangi jam mengajarnya di SMPN 1 sesuai dengan hari dia bisa. dan diputuskan dia mengajar di SMPN 1 Tanjungraja hari senin sampai dengan rabu.Kamis sampai dengan sabtu dia akan mengajar di sekolah lain. keputusannya itu mengakibatkan jamnya dikurangi 8 jam pelajaran. keputusan ini di buat berdasarkan aturan, karena peraturan SMPN 1 Tanjungraja keputusan di buat dengan orientasi peraturan. awalnya guru M ersikeras dia mampu mengatasi masalahnya dengan cara sejam di mengajar di SMPN 1, dilanjutkan perjalanan ke sekolah lain untuk mengajar, dia berharap jam mengajarnya tidak di kurangi dengan pertimbangan dia masih sangat membutuhkan honornya, tetapi dia tidak mampu memberikan imbal balik pada murid atas ketidak hadirannya.sifat egoisnya untuk mementingkan dirinya lebih diutamakan. waka kurikulum harus ekstra sabar memberinya masukan dan nasehat. Menyakinkan dirinya SMPN 1 tidak mudah memecat guru, teapi harus ada timbal baliknya jangan sampai merugikan murid. proses coaching perlu dilakukan 2 sampai 3 kali untuk membantunya memunculkan idenya dan mengikhlaskan sebagian jam nya di alihkan pada guru lain.  


Kasus kedua yang ada yaitu Perpustakaan SMPN 1 tanjungraja, di kelolah oleh guru senior yang melakukan prilaku ketidakhadiran disekolah juga yang sangat jarang. dalam seminggu guru itu hadir paling sekali, padahal dia di beri jadwal 4 hari dalam seminggu. dan guru senior itu diberi tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan. Akibatnya perpustakaan juga jarang di buka. sudah 4 tahun berjalan cara guru senior itu mengolah perpustakaan membuat saya heran dan bertanya-tanya mengapa dia melakukkan itu.  Penataan buku perpustakaan sangat rapih, dinding perpustakaan di hias dengan indah sehingga suasana nyaman untuk membaca, awalnya kami menganggap alangkah bagusnya pekerjaan guru senior ini, tetapi praktiknya murid dipungut bayaran untuk meminjam buku di perpustakaan, biaya menyewa buku perpustakaan Rp 2000,00. Awalnya murid mau saja menyewa buku tetapi setelah sekian bulan berjalan murid sudah tidak mampu lagi membayar sewa, sehingga ketika guru pelajaran memberi tugas dan menugaskan murid meminjam buku pelajaran di perpustakaan, murid banyak yang mengeluarkan keluh kesahnya. Mereka meminta kebijakan sekolah untuk meniadakan sewa buku perpustakaan. Keluhan murid sampailah pada waka kurikulum, dan waka kurikulum segera melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah. Tanggapan kepala sekolah, kepala perpustakaan di panggil dan di pringatkan akan prilakunya yang sangat tidak berpihak pada murid, hendaklah dia merubah prilaku itu, buku yang ada di perpustakaan itu bukan milik kepala perpustakaan tetapi milik negara.  Kepala perpustakaan mengiyakan semua perintah kepala sekolah, tetapi sudah ditunggu satu atau dua bulan ini tetap saja praktik menyewakan buku perpustakaan itu di lakukan. Menjelang akhir bulan  januari waka kurikulum, meminta ijin kepada kepala sekolah untuk mengambil tindakan yaitu memutus tugas tambahan kepala perpustakaan menjadi guru mata pelajaran saja. dengan alasan, kepala perpustakaan melanggar kesepakatan bersama di SMPN1 tanjungraja. keputusan ini sungguh membuat dilema. jika tidak dilaksanakan maka perpustakaan tidak dapat di jalankan di SMPN 1 Tanjungra, padahal perpustakaan adalah sumber ilmu kedua dari guru bagi murid dan guru. Jika di biarkan perpustakaan dipegang oleh kepala perpustakaan seperti itu maka program literasi sekolah tidak akan berjalan. murid tidak mampu membayar, jika mereka mampu, mereka tidak bersedia membayar hanya untuk meminjam buku, lebih baik mereka searching internet di android masing-masing. tetapi jika di hentikan tugas tambahannya, maka prilakunya maka sikap buruknya akan menjadi-jadi. Otomatis pelampiasannya yaitu semakin hari kehadiran nya di sekolah semakin menurun.  ternyata setelah di ambil keputusan untuk meniadakan tugas tambahan, maka prilaku guru senior itu sesuai dengan prediksi kami. Kepala sekolah belum mampu merubah prilakunya membaik.Semenjak kepala perpustakaan di hentikan dari tugas tambahannya, perpustakaan menjadi sarang tawon, di beberapa plapon perpustakaan berkembangbiak tawon yang sangat meresahkan pengunjung perpustakaan jika masuk keruang perpustakaan.






Keputusan ketiga, yaitu sekolah memutuskan tenaga kebersihan di SMPN 1 Tanjungraja tetap dipekerjakan. Pekerja kebersihan di SMPN1 Tanjungraja memiliki sifat yang tidak terpuji, pekerja ini tidak mengerjakan tupoksinya sebagai pekerja kebersihan, tetapi sibuk mencari-cari kesalahan guru yang tidak hadir di ruang kelas. petugas kebersihan itu sudah di pringatkan secara lisan dan tulisan berupa surat perjanjian jika dia mengulangi perbuatannya tidak melakasnakan tupoksinya dia akan di berhentikan. awal pebruari 2022 semua dewan guru mengajukan petisi kepada kepala sekolah untuk memecat petugas kebersihan tersebut. setelah menerima surat petisi dari semua guru, kepala sekolah memanggil waka kurikulum, kepala tata usaha dan petugas kebersihan itu untuk membahas adanya surat petisi dari dewan guru atas ketidaknyamanan mereka dengan kinerja petugas kebersihan. 

kepala sekolah memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar petugas kebersihan itu, sampai akhirnya petugas kebersihan itu mengakui kesalahannya selama ini dia lakukan karena dia kecewa deangan sistem keuangan yang dijalankan kepala sekolah saat ini, dia merasa di saat pemimpin sebelumnya, dia mendapat jatah uang selain honornya sebesar Rp 180.000/bulan digunakan untuk membeli bensin, obat rumput.Tetapi pada kepemimpinan sekarang uang itu ditiadakan. kemudian kami klarifikasi kalau alasan dia tidak menjalankan tugasnya karena kecewa tidak ada dana itu, mengapa pekerjaan yang tidak memerlukan dana, seperti menyapu ruang kantor guru tidak dilakukan. dengan mudahnya dia menjawab itu karena efek dia tidak di beri uang tambahan bulanan itu, padahal dia tidak memiliki dana bulanan. Waka kurikulum masih tidak menerima alasan dari petugas kebersihan itu. tetapi kepala sekolah menengahi, dan memberi ultimatum pada petugas kebersihan tersbut, dengan pertanyaan, seandainya pihak sekolah menyanggupi dana tambahan yang di ajukannya itu apakah petugas kebersihan itu masih ingin bekerja disini, dan jawabannya dia masih bersedia. ketika rapat dewan guru tanggal 03-03-2022, kepala sekolah juga mengundang petugas perpustakaan itu untuk hadir di saat rapat.

kepala sekolah menyampaikan kepada semua guru bahwa penyelesaian kasus petugas kebersihan itu sudah dilakukan, dan hasilnya kepala sekolah beserta wakil telah memutuskan masih memberi kesempatan pada petugas kebersihan untuk bekerja di SMPN 1 Tanjungraja. jika ada guru yang berkeberatan atau ingin berpendapat dipersilahkan. beberapa guru ada yang menerima keputusan ini, dan ada beberapa guru yang tidak menerima dengan alasan kepala sekolah itu, dari pak S, dia mengungkapkan petisi ini di buat bukan karena pristiwa sehari atau dua hari, tapi sudah berlangsung hampir satu tahun, dan semua langkah sudah dilakukan pringatan 1, 2, dan 3 sudah dilakukan tetapi dia tetap tidak ada berubah. tetapi jika kepala sekolah tetap ingin memperkerjakan petugas kebersihan itu dengan alasannya seperti yang dia sampaikan dia juga tidak berkeberatan demi menjaga rasa kekeluargaan. Ibu F juga berkeberatan dengan keputusan kepala sekolah, dengan alasan, uang perbulan untuk tambahan itu memang tidak dikeluarkan langsung sebesar itu perbulan, tetapi setiap dia ingin memotong rumput, bensin, oli dan obat rumput selalu di belikan.  tanggapan ibu F di jawab oleh petugas kebersihan itu dengan cara mengakui kesalahannya, dan dia akan memperbaiki kinerja yang akan datang. 









3 keputusan yang terjadi di SMPN 1 Tanjungraja itu merupakan kasus nyata. 

F2 : Perasaan/felling 

Perasaan saya ketika menjalankan ketiga kasus di atas sangat kompleks, deg-degkan, saya merasa sayalah yang berperan jadi kepala sekolah.awalnya saya ksal dan marah mengapa semua kasus di sekolah ini saya harus menyelesaikannya?  Saya merasa takut, tapi saya kesal dengan prilaku teman-teman di SMPN 1 Tanjungraja, saya merasa seperti dijadikan tumbal oleh kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah yang menurut saya seharusnya dia yang harus menyelesaikannya.setelah mnjalanai semuanya, saya semakin mengerti, benar ucapan kepala dinas Lampung Utara pada saya, saat berkunjung di SMPN1, Beliau berpesan, kamu jangan bangga dengan prestasimu, bagikan ilmu yang kamu miliki pada teman-temanmu, bantu kepala sekolah disini dengan ikhlas karena itu semua proses pembelajaran kepemimpimpinan yang hakiki". 

F3 : Pembelajaran/finding

Mengalami ketiga kasus di atas memberikan saya ilmu pengetahuan bahwa, keputusan yang berorientasi pada rasa peduli memang berlaku di SMPN 1 Tanjungraja, semua keputusan di dasarkan pada rasa peduli, sehingga di SMPN 1 Tanjungraja rasa kekeluargaannya benar-benar terasa jika di bandingkan dengan sekolah lain di wilayah Tanjungraja.  tetapi tidak semua kasus cukup di selesaikan dengan orientasi keputusan pada rasa peduli, ada juga kasus yang diselesaikan dengan orientasi pada masa depan, yaitu pada kasus kepala perpustakaan yang melakukan prilaku tidak terpuji dengan menyewakan buku perpustakaan pada murid. ada juga yang berorientasi pada peraturan, seperti kasus pertama. adanya guru yang tidak menjalankan jadwal sesuai yang telah disepakati bersama, guru seperti itu tidak di biarkan tetapi di beri teguran dan jika dia terus melakukan perbuatannya, maka jam mengajarnya dikurangi bahkan di buat nol jam, sesuai dengan peraturannya. sehingga saya dapat mengambil kesimpulan setiap kasus itu berbeda cara penyelesaiannya dan orientasinya juga berbeda-beda untuk membuat keputusan kita pilih yang terbaik dari resiko yang terkecil diakibatkan dari keputusan yang di buat.

F4 : Penerapan kedepanya 

Dimasa depan kepemimpinan di sekolah seharusnya, selalu membicarakan apa yang akan di rencanakan, di buat kesepakatan bersama anatara pemimpin dengan rekan kerja baik guru atau staff TU. jangan menyepelekan tim kerja, berkolaborasi dalam segala kasus, jangan membuat keputusan sendiri, dan setiap setelah membuat keputusan lakukanlah refleksi. sehingga hasil yang di putuskan itu dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.  

Suasana SMPN 1 saat ini










Comments

Popular posts from this blog

Pemimpin pembelajaran berpihak pada murid