Pemimpin pembelajaran berpihak pada murid

 Pemimpin pembelajaran berpihak pada murid

oleh 

Merita Diana, S.Si., M.Pd.

Tugas 3.1.a.9. Koneksi Antarmateri (calon guru penggerak angkatan 3)


      Awalnya saya menulis blog ini di karenakan tuntutan tugas koneksi antar materi 3.1.a.9. tetapi setelah saya kerjakan tugas ini menjadi tempat saya menceritakan perjalan saya menjalani pendidikan calon guru penggerak di mulai dari diri saya yang tidak tahu apa-apa, saya sering di menerima sindiran dari idola saya kata mereka belajar kok untuk coba-coba, awalnya saya marah dan tersinggung dengan ucapan Beliau. tetapi memang itulah kenyataanya saya mendaftar guru penggerak bukan karena kesengajaan, saya adalah sosok guru yang selalu tertekan dengan situasi sekolah saya yang tidak mendukung murid belajar, semua yang di lakukan hanya karena ada pimpinan, ketika pimpinan tidak sesuai dengan mereka, maka kinerja mereka mengajar menurun. Ada yang  bekerja di saat ada pimpinan saja, ketika pimpinan tidak dapat hadir ke sekolah, maka murid tidak lagi mendapat pembelajarannya. situasi seperti itu saya alami kurang lebih 10 tahun saya berada di lingkungan sekolah saya berada. Ketika saya ingin memulai suatu hal yang baru, maka ada saja teguran dari pimpinan dan senior  yang mengingatkan saya bahwa seberapapun saya berjuang jika saya sendiri saya tidak akan pernah akan berhasil. Tahun 2021 pergantian pimpinan sekolah terjadi di sekolah, senior saya banyak yang terpilih menjadi pemimpin di sekolah lain, sehingga sekolah kekurangan tenaga ahli, semua guru diminta kesediaannya menjadi wakil kurikulum, ternyata tidak ada yang bersedia. saya juga sama sekali tidak peduli dengan kericuhan di sekolah, karena saya meraa selama ini sekolah tidak membutuhkan saya, sampai suatu hari pimpinan sekolah meminta kepada saya untuk menjadi rekan kerjanya dan membantu di bidang kurikulum. Saya sempat heran, mengapa mereka meminta saya, padahal saya sudah dikenal tidak ada kompetensi di bidang itu, saya merasa guru yang paling tidak berkompeten menurut versi mereka. setelah saya menjadi waka kurikulum, rekan guru sekarang memanggil saya dengan "WAKUR". Saya tidak peduli mereka melebeli saya begitu dengan maksud apa, tapi yang saya lakukan apa yang baik menurut saya dan terutama untuk murid. Jika saya hubungkan perjalan saya menjadi calon guru penggerak dengan koneksi antar materi dalam modul ini, tampak sebagai berikut :
  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikantauladan contoh praktek baik kepada murid, di sekolah saya dulu saya tidak menemukan rekan guru dan pemimpin yang dapat saya jadikan panutan, setelah saya belajar di PGP maka saya berkeinginan supaya murid saya memiliki panutan untuk mereka belajar, dan dapat bertahan seperti saya menemukan wadah PGP ini sebagai tempat menimba ilmu dan menemukan arti belajar yang sebenarnya. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. masa pandemi ini banyak rekan guru yang membelajarkan materi pelajaran hanya mengandalkan grup WA, memberikan foto soal dan murid disuruh mencari jawaban di buku paket, hal ini tidak sesuai dengan pemikiran saya mengapa guru dapat berbuat seperti itu ? tidak ada karsa dalam jiwanya untuk meningkatkan semangat murid untuk belajar, Guru  sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Banyak pelatihan untuk guru meningkatkan kompetensi di masa pandemi ini, ada yang gratis dan ada yang berbayar, tetapi rekan guru di sekolah saya tidak banyak yang memanfaatkan kesempatan itu, saya bahkan menjadi pelatih mereka dalam berbagai aplikasi penunjang pembelajaran, tetapi mereka malah beranggapan mengapa harus bersusah payah belajar jika yang mereka lakukan selama ini tidak ada protes dari pimpinan sekolah, mereka tidak memikirkan murid mereka yang banyak mengeluh karena tidak mengerti dengan materi pelajaran, saya berharap saya tidak melakukan itu semua, saya berusaha menjadi pamong untuk murid saya, belajar sepanjang hayat. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

gambar 1. Hasil murid belajar  ipa dengan quizizz
Gambar 2.  murid berinteraksi dengan guru mellaui googlemeet
Gambar 3. murid berkompetisi dalam mengerjakan soal dalam aplikasi quizizz

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pengambilan suatu keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai dalam diri saya yang selalu ingin tahu dengan hal baru, saya tidak mudah puas dengan hasil sekarang, dan saya ingin apa yang saya kerjakan itu bermanfaat bagi orang lain, Nilai-nilai bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Nilai-nilai itulah yang mendorong saya untuk belajarhal yang baru. Maka saya merasa penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil.

  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
    fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. saya mempraktekkan choaching ini dengan murid dan rekan guru yang banyak mengeluh karena masalah mereka, kemampuan choaching saya memberi manfaat pad murid saya menemukan jawaban masalahnya yaitu susah memahami pelajaran matematika, murid saya itu mendapatkan ide untuk meminta bantuan wali kelasnya untuk menemaninya berbicara dengan guru matematika, karena dia takut jika berbicara langsung tanpa didampingi wali kelasnya, murid itu mampu kapan menjalankan rencananya, dengan siapa dia menjalankannya dan dia mampu membuat rencana yang lain jika cara tersbut tidak berhasil. demikian juga dengan rekan guru yang memiliki masalah tidak mampu membagi waktu mengajar di sekolah ini dan sekolah lain, setelah choaching di lakukan rekan guru itu mampu membuat rencana apa yang sebaiknya dia lakukan, kapan memulai rencananya, dan dia mampu menyakinkan hatinya untuk memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.


Gambar 4. Choaching ini dapat mengurai benang kusut menjadi benang yang lurus 

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Kasus yang termasuk bujukan moral lebih mudah diselesaikan karena kita sudah mengetahui ini masalah benar dan salah, otomatis kita jika terbuka hati dan sudah tertanam pendidikan calon guru penggerak akan memilih yang benar, tetapi jika itu kasus dilema etika, maka sembilan langkah penyelesaian masalah dapat kita lakukan sehingga kita memperoleh keputusan yang akan dijalankan. tidak perlu bersedih atau menyerah di saat keputusan itu ada yang menentangnya, karena tidak ada dilema yang tidak memiliki pertentangan, kita cukup fokus pada hailnya apakah efeknya berat atau ringan, pilihlah keputusan yang efeknya paling ringan setelah menjalankan 9 langkah konsep pengambilan keputusan. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.Pendekatan BAGJA ini menitik beratkan pada apa yang kita miliki bukan pada apa yang tidak dimiliki, sehingga lingkungan yang diciptakan lebih postip, kondisif, aman dan nyaman.

  • Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Kita harus berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking). semua cara berpikir itu boleh saja kita lakukan, tetapi di sekolah saya suatu masalah lebih diselesaikan dengan berpikir berbasis rasa peduli (care based thingking), ini semua karena lingkungan saya memang sudah biasa menggunakan cara bermusyawarah dalam menyelesaikan segala masalah. walaupun peraturan itu kadang di awali dari cara berpikir berbasis peraturan tetapi ketika kasus itu terjadi maka akan berubah menjadi penyelesaian berdasarkan keputusan berdasarkan cara berpikir berbasis peduli.

  • Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miiki. Maka keputusan yang kita ambil tidak boleh merampas kebahagiaan siswa dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa.kasus di sekolahs saya yang sangat nampak yaitu dahulu murid dilarang membawa HP, kemudian pandemi melanda lingkungan sekolah, murid dan guru tidak bisa tidak harus menggunakan HP untuk berkomunikasi dan menyampaikan pelajaran. tetapi masih ada guru yang merasa tidak nayaman di saat muridnya bermain HP, guru tersebut lebih memilih marah dengan murid daripada merubah cara mengajarnya yang di paksakan murid menggunakan HP itu untuk belajar. sehingga keputusan guru itu marah dengan murid bukanlah keputusan yang tepat, murid itu memiliki kodrad zaman, murid dari rumah sudah tidak dapat di lepaskan dari HP, seharusnya guru membuat keputusan membuat pembelajarannya berpihak pada murid, gunakanlah metode pembelajaran yang memanfaatkan HP dalam pembelajaran sehingga pengajaran kita dapat memerdekan murid-murid. Tetapi itu semua memang tidak mudah di lakukan, guru harus memiliki SDM yang mumpuni. minimal guru memiliki semangat belajar memperoleh informasi terbaru tentang penggunaan aplikasi dalam pembelajaran.



Gambar 5. guru mengikuti pelatihan PGP

 Gambar 6. guru menyampaikan materi pembelajaran secara daring

Gambar 7 guru mampu membuat video pembelajaran

Gambar 8. Guru mampu berbagi dengan rekan guru tentang teknologi pembelajaran

 


 






Comments

Popular posts from this blog